Background

Antara Amanah dengan Aminah


Oleh:   Afina Azmi
            (Mahasiswa UPI, jurusan P. Bahasa Inggris 2010)

Tahu ngga apa hubungan antara amanah dengan Aminah?
Itu bukannya nama saudara kembar loe?
Bukan…! Emang sejak kapan gua ada saudara?
Oh…, pasti judul sinetron terbaru, ya?
Apalagi itu…! Ya sudahlah, gua jawab sendiri!
Gini kalau kita jadi orang yang amanah, para Aminah (baca -wanita-) akan datang dengan sendirinya. Betul, ngga?
Betul, sih. Tapi gua kan cewek, kok pake kita?
Loe aja kale, gua ngga!
Oh, maaf gua lupa. Hehe…

***
Percakapan di atas tadi hanyalah gambaran sekilas tentang kedahsyatan amanah, yaitu bila seseorang amanah, maka orang-orang akan menyukainya (walau ceritanya agak nyeleneh, sih. Hehe…). Nah, ngomong-ngomong, sobat tahu ngga sebenernya apa sih AMANAH itu?
Amanah dapat diibaratkan dengan seorang muslim yang memenuhi apa yang dititipkan kepadanya. Hal ini didasarkan pada firman ALLAH SWT: “Sesungguhnya ALLAH memerintahkan kalian untuk mengembalikan titipan-titipan kepada yang memilikinya, dan jika menghukumi diantara manusia agar menghukumi dengan adil…” (QS. 4/58)
Maka yang termasuk amanah bukan hanya dalam hal materi atau hal yang berkaitan dengan kebendaan saja, tapi juga berkaitan dengan segala hal. Memenuhi tuntutan Allah adalah amanah, bergaul dengan manusia dengan cara yang terbaik adalah amanah, makan dan buang air tepat waktu juga amanah, dan seterusnya, dan sejenisnya, dan lain-lain.
Secara bahasa, amanah bermakna al-wafa’ (memenuhi) dan wadi’ah (titipan). Bisa dibilang, amanah ini sendiri merupakan sesuatu yang harus dipenuhi dan berwujud sebagai sebuah titipan. Misalnya, kamu saat ini menjabat sebagai mahasiswa UPI. Nah, itu sudah menjadi sebuah amanah, lho. Penuhilah hak dan kewajiban kamu layaknya mahasiswa. Coba deh, kalau kamu lihat orang-orang yang bergerombol di klub malam. Kira-kira yang kayak gitu pantas ngga disebut sebagai mahasiswa? Mahasiswa itu ngga sembarangan. Kita itu “maha’, artinya yang paling ‘wah’ dari semua jenis siswa. ‘Wah’ ilmunya, ‘wah’ pengajarnya, ‘wah’ bayaran kuliahnya, ‘wah’ banget tugasnya juga. Iya kan?
Saya ikut banyak organisasi.
Jadi maklum aja dong kalau belum
maksimal.
Lha? Kata siapa? Memangnya kalau banyak berorganisasi jadi ngga bisa maksimal? Hey guys, ada lho, mahasiswa UPI juga yang beliau itu aktif dimana-mana, tapi dia tetap oke punya, begitupun kuliahnya. Pemuda kelahiran 1992 ini aktif di Himpunan Mahasiswa Civics Hukum, sekarang di BEM REMA UPI, pokonya banyak deh. Di SMA-nya, dia aktif di OSIS, lho. Yang kuliah di jurusan Pendidikan Kewarganegaraan pasti kenal sama yang namanya Rifa Anggyana, angkatan 2010. Dia adalah sosok yang dapat membuktikan bahwa tidak selamanya orang berorganisasi banyak itu ngga bisa optimal. Harus seimbang. Bukan seimbang yang jelek ya, tapi seimbangnya yang bagus. Dalam kuliah dan organisasi maupun amanah.
Tapi aku susah ngatur waktunya…
Kalu gitu prioritaskan dulu yang memang paling utama. Bagaimanapun, kuliah adalah tujuan utama kita di UPI, kan? Jangan sampai organisasi melalaikan IP dan IPK mu.
Oke, lanjut ke makna wad’iah. Meskipun kamu sekarang jadi mahasiswa, itu bukan predikat selamanya. Itu sekedar titipan untuk beberapa tahun saja. Ah, kecuali kalau kamu mau jadi mahasiswa abadi plus bayar biaya semesteran abadi. Hehehehe.. Hm, coba ambil contoh lain ya. Kamu punya mata? Punya telinga? Punya mulut? Jawabannya adalah: TIDAK.
Mata, mulut, telinga, dan lain-lain adalah hanya titipan dari Allah. Kalu barang titipan, dimana-mana juga harus dikembalikan dalam kondisi yang bagus seperti semula. Kalau dititipi kambing selama dua tahun, pasti si kambing itu akan tumbuh dan berkembang sehingga dikembalikan dalam kondisi fisik yang berbeda, kecuali kalau mati duluan. Tapi tetap saja toh harus dalam kondisi yang baik.
Well, dari maknanya saja rasanya sudah jelas, bukan, bahwa amanah itu penting banget? Kalau dikelaskan, sudah layak masuk kelas berat, tuh. Jadi, jangan sekali-kali meremehkan amanah.
Dalilnya? Woo, jangan kerung dulu. Cekidot yang berikut ini ya:
1.      Al-Qur’an; Kedua firman ALLAH SWT (QS. 4/58; 33/72) dan QS. 2/283; 8/27; 23/8; 70/32.
2.      As-Sunnah:
a.       “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban kelak di hari kiamat, …” (HR. Muttafaq ‘alaih, dalam Lu’lu wal Marjan hadits no.1199)
b.      “Ada 4 perkara yang jika semuanya ada pada dirimu maka tidak berbahaya bagimu apa yang terlepas darimu dalam dunia: Benar ketika, menjaga amanah, sempurna dalam akhlaq, menjaga diri dari meminta”. (HR. Ahmad dalam musnadnya 2/177; Hakim dalam al-Mustadrak 4/314 dari Ibnu Umar ra; berkata Imam al-Mundziri tentang hadist ini: Telah meriwayatkan Ahmad, Ibnu Abi Dunya, Thabrani, Baihaqi dengan sanad yang hasan, lih. At-Targhib wa Tarhib 3/589)
Wiih, mantap kan? Qur’an sudah berkata, sunnah sudah berucap, dan Rasul plus para sahabat telah mencontohkan. Lantas apa lagi yang kita tunggu? Jadilah manusia yang amanah yang mengharap ridho Allah, jangan jadi manusia yang mengharapkan dapat Aminah, ya!:-D

Categories: Share

1 komentar:

  1. UKHTI KAMU ORANG yg rajin ikut organisasi ya sptinya ehe

    saalam ukhuwah,
    mari berkunjung silaturahim...

    BalasHapus